This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Senin, 23 Februari 2015

Hubungan Media dan Komunikasi dalam Teori Pendidikan



Hubungan antara Media dan Komunikasi dalam Teori Pendidikan
Dalam teori pendidikan, kegiatan pembelajaran merupakan proses transformasi pesan edukatif berupa materi belajar dari sumber belajar kepada pembelajar, untuk itu hubungan antara media dan komunikasi dalam teori pendidikan adalah media berfungsi membantu mengatasi hambatan-hambatan yang terjadi dalam proses belajar mengajar.  Misalnya, tidak tercapainya tujuan pembelajaran, perbedaan gaya belajar, minat, intelegensi, keterbatasan daya ingat, cacat tubuh, atau hambatan jarak geografis, jarak waktu dan lain-lain.
Media komunikasi adalah suatu media atau alat bantu yang digunakan oleh suatu organisasi guna tercapainya efisiensi dan efektivitas kerja dengan hasil yang maksimal. Sedangkan media pendidikan adalah alat, metode, dan tehnik yang digunakan dalam rangka lebih mengefektifkan komunikasi dan interaksi antara guru dan siswa dalam proses pendidikan dan pengajaran di sekolah (Hamalik. 1982).
Dengan menggunakan media pendidikan secara tepat dan bervariasi, seorang pengajar dapat mengatasi sikap pasif pembelajar. Maka fungsi media pendidikan adalah untuk:
  1. Menimbulkan kegairahan belajar bagi pembelajar
  2. Memungkinkan interaksi yang lebih langsung antara pembelajar dengan lingkungan kenyataan, dan
  3. Memungkinkan pembelajar dapat belajar sendiri-sendiri menurut kemampuan dan minatnya.
Secara umum kegunaan media pendidikan dalam proses pembelajaran seperti yang dikutip oleh Sanaky (2011: 15), sebagai berikut:
  1. Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbalistis (dalam bentuk kata-kata tertulis atau lisan).
  2. Mengatasi keterbatasan ruang, waktu, dan daya indera, seperti:
1)    Obyek yang terlalu besar, dapat digantiakn dengan realita, gambar, film bingkai, film, atau model.
2)    Obyek yang kecil-kecil dibantu dengan proyektor mikro, film bingkai, film, atau gambar.
3)    Gerak yang terlalu lambat atau terlalu cepat, dapat dibantu dengan timelapse atau highspeed phtography.
4)    Kejadian atau peristiwa yang terjadi di masa lalu, dapat ditampilkan lagi lewat rekaman film, video, DVC, film bingkai, foto, maupun secara verbal.
5)    Objek yang terlalu kompleks (mesin-mesin) dapat disajikan dengan model, diagram, dan lain-lain.
6)    Konsep yang terlalu luas (gunung berapi, gempa bumi, iklim, dan lain-lain) dapat divisualkan dalam bentuk film, film bingkai, gambar, dan lain-lain.

Peran Komunikasi dalam Proses Belajar Mengajar
            Peran komunikasi dalam proses belajar mengajar adalah agar siswa dapat mengerti dan memahami materi pembelajaran serta dapat menimbulkan umpan balik yang positif  sehingga menambah wawasan ilmu pengetahuan dan teknologi serta menimbulkan perubahan tingkah laku menjadi lebih baik.
Komunikasi yang tidak efektif merupakan salah satu penyebab terhambatnya proses belajar mengajar. Hal ini dikarenakan lemahnya sistem komunikasi antara pendidik dan peserta didik sehingga tidak tercapainya interaksi belajar mengajar yang efektif. Keefektifan komunikasi dalam kegiatan belajar mengajar ini sangat tergantung dari kedua belah pihak. Akan tetapi karena pengajar yang memegang kendali kelas, maka tanggung jawab terjadinya komunikasi dalam kelas yang sehat dan efektif terletak pada tangan pengajar. Keberhasilan pengajar dalam mengemban tanggung jawab tersebut dipengaruhi oleh keterampilannya dalam melakukan komunikasi ini. Untuk itulah guru perlu mengembangkan pola komunikasi yang efektif dalam proses belajar mengajar.
Pendidik perlu menyadari akan hal ini, yaitu bahwa di dalam melaksanakan kegiatan belajar dan pembelajaran, sebenarnya dia sedang melaksanakan kegiatan komunikasi. Yaitu :
1.    Pesan yang akan dikomunikasikan adalah isi pelajaran yang terdapat dalam kurikulum.
2.    penerima pesan adalah pembelajar
3.    Dalam pembelajaran dapat menggunakan alat-alat bantu pembelajaran atau media pembelajaran
Oleh karena itu, guru perlu selalu memilih dan menggunakan kata-kata yang sesuai dengan pengalaman murid-muridnya, agar dapat dimengerti dengan baik oleh mereka, sehingga pesan pembelajaran yang disampaikan dapat diterima dengan baik.


Daftar Pustaka :





Konsep- Konsep Pendidik




PERBANDINGAN KONSEP-KONSEP PENDIDIK/ GURU

Pengertian
Salah satu unsur penting dari proses kependidikan adalah pendidik. Pendidik adalah seseorang yang melakukan kegiatan dan memberikan pengetahuan, ketrampilan, pendidikan, pengalaman, dan sebagainya. Orang yang melakukan kegiatan ini bisa siapa saja dan dimana saja. Di rumah, orang yang melakukan tugas tersebut adalah kedua orang tua, karena secara moral dan teologis merekalah yang diserahi tanggungjawab mendidik anaknya. Selanjutnya di sekolah tugas tersebut dilakukan oleh guru, dan di masyarakat dilakukan oleh organisasi – organisasi kependidikan dan sebagainya. Atas dasar ini, maka yang termasuk dalam pendidikan itu bisa kedua orang tua, guru, tokoh masyarakat dan sebagainya.
Istilah pendidik dalam beberapa literatur kependidikan sering diwakili oleh istilah guru. Dibawah ini merupakan definisi dari Guru.
Menurut Noor Jamaluddin (1978: 1) Guru adalah pendidik, yaitu orang dewasa yang bertanggung jawab memberi bimbingan atau bantuan kepada anak didik dalam perkembangan jasmani dan rohaninya agar mencapai kedewasaannya, mampu berdiri sendiri dapat melaksanakan tugasnya sebagai makhluk Allah khalifah di muka bumi, sebagai makhluk sosial dan individu yang sanggup berdiri sendiri.
Menurut Ngalim Purwanto bahwa guru ialah orang yang pernah memberikan suatu ilmu atau kepandaian kepada seseorang atau sekelompok orang.
Ahmad Tafsir mengemukakan pendapat bahwa guru ialah orang-orang yang bertanggung jawab terhadap perkembangan anak didik dengan mengupayakan perkembangan seluruh potensi anak didik, baik potensi afektif, kognitif maupun psikomotorik.·
Sedangkan menurut Hadari Nawawi bahwa pengertian guru dapat dilihat dari dua sisal. Pertama secara sempit, guru adalah ia yang berkewajiban mewujudkan program kelas, yakni orang yang kerjanya mengajar dan memberikan pelajaran di kelas. Sedangkan secara luas diartikan guru adalah orang yang bekerja dalam bidang pendidikan dan pengajaran yang ikut bertanggung jawab dalam membantu anak-anak dalam mencapai kedewasaan masing-masing.·

Tugas Pendidik/Guru
Secara umum tugas seorang pendidik adalah mendidik. Dalam operasionalnya, mendidik merupakan rangkaian proses mengajar, memberikan dorongan, memuji, menghukum memberi contoh, membiasakan dan lain sebagainya. Batasan ini memberikan arti bahwa tugas pendidik bukan hanya sekedar mengajar sebagaimana pendapat kebanyakan orang. Disamping itu pendidik juga bertugas sebagai motifator dan fasilitator dalam proses belajar mengajar, sehingga seluruh potensi peserta didik dapat teraktualisasi secara baik dan dinamis.
Dalam pendidikan, guru mempunyai tiga tugas pokok yang dapat dilaksanakan, yaitu sebagai berikut:
1) Tugas Professional
Tugas  profesional  ialah  tugas  yang  berhubungan dengan profesinya. Tugas profesional ini meliputi tugas mendidik, mengajar, dan melatih. Mendidik berarti meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup. Mengajar berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, sedangkan melatih berarti mengembangkan keterampilan.
2) Tugas Manusiawi
Tugas manusiawi adalah tugas sebagai manusia. Dalam hal ini baik guru mata pelajaran IPA-Biologi maupun guru mata pelajaran lainnya bertugas mewujudkan dirinya untuk merealisasikan seluruh potensi yang dimilikinya. Guru di sekolah harus dapat menjadikan dirinya sebagai orang tua kedua. Ia harus mampu menarik simpatik sehingga ia menjadi idola siswa. Di samping itu transformasi diri terhadap kenyataan di kelas atau di masyarakat perlu dibiasakan, sehingga setiap lapisan masyarakat dapat mengerti bila menghadapi guru.

3) Tugas Kemasyarakatan
Tugas kemasyarakatan ialah guru sebagai anggota masyarakat dan warga negara seharusnya berfungsi sebagai pencipta masa depan dan penggerak kemampuan. Bahkan keberadaan guru merupakan faktor penentu yang tidak mungkin dapat digantikan oleh komponen manapun dalam kehidupan bangsa sejak dulu terlebih-lebih pada masa kini.

Di samping ketiga tugas pokok Guru tersebut di atas, menurut Muhtar (1992), guru juga berperan sebagai:
a)  Fasilitator Perkembangan Siswa
Kemampuan dan potensi yang dimiliki siswa tidak mungkin dapat berkembang dengan baik apabila tidak mendapat rangsangan dari lingkungannya. Dalam suasana sekolah, guru diharapkan dengan siswa secara individual telah mempunyai kemampuan dan potensi itu. Dengan kata lain mempunyai peranan sebagai fasilitator dalam mengantarkan siswa ke arah hasil pendidikan yang tinggi mutunya.
b)  Agen pembaharuan
Kehidupan manusia merupakan serangkaian perubahan-perubahan yang nyata. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada era globalisasi ini mengalami kepesatan yang melangit. Dalam hal ini, guru dituntut untuk tanggap terhadap perubahan dan dituntut untuk bertugas sebagai agen pembaharuan dan mampu menularkan kreatifitas dan kesiapan mental siswa.
c) Pengelola kegiatan proses belajar mengajar
Guru dalam hal ini bertugas mengarahkan kegiatan belajar siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran. Oleh karena itu dalam menyajikan materi pelajarannya. Guru berperan dan bertugas sebagai pengelola proses belajar mengajar.
d)  Pengganti orang tua di sekolah
Guru dalam hal ini harus dapat menggantikan orang tua siswa apabila siswa sedang berada di sekolah. Dalam melaksanakan tugasnya sebagai pengganti orang tua, guru-guru harus mampu menghayati hubungan kasih sayang seorang bapak atau seorang ibu terhadap anaknya. Oleh karena itu, guru mampu mengenal suasana siswa di rumah atau dalam keluarganya.

Guru tidak hanya menyampaikan materi pengetahuan tertentu, tetapi ikut aktif serta kreatif dalam mengarahkan perkembangan anak didiknya untuk menjadi anggota masyarakat sebagai orang dewasa. Dari sini, kita bisa pahami bahwa kedudukan seorang guru sangat penting dalam proses pendidikan karena dia bertanggungjawab dan menentukan arah pendidikan dalam rangka mencetak generasi bangsa yang unggul disegala bidang.

Daftar Pustaka :
Basuki dan Miftahul Ulum. 2007. Pengantar Ilmu Pendidikan Islam. Ponorogo : Stain Po Pres. Cet. I.


http://definisimu.blogspot.com/2012/09/definisi-guru.html Diakses pada tanggal 19 Februari 2015




Muhtar. 1992. Pedoman Bimbingan Guru dalam Proses Belajar Mengajar. Jakarta: PGK & PTK Dep.Dikbud.
Samsul, Nizar. 2002. Filsafat Pendidikan Islam (Pendekatan Historis, Teoritis, dan Praktis). Jakarta : Ciputat Pres. Cet.I.

Senin, 16 Februari 2015

PENDEKATAN KONSEP DAN PENDEKATAN KETERAMPILAN PROSES IPA DALAM MENGAJARKAN IPA (BIOLOGI)




MAKALAH
MATA KULIAH STRATEGI BELAJAR MENGAJAR BIOLOGI
( AKPC 2408 )

PENDEKATAN KONSEP DAN PENDEKATAN KETERAMPILAN PROSES IPA DALAM MENGAJARKAN IPA (BIOLOGI)

Dosen Pengasuh :
Drs. H. Aminuddin PP, M.Pd
M. Arsyad, S.Pd, M.Pd
Dra. Hj. Noor Ichsan Hayani, MP
Dra. St. Wahidah Arsyad, M.Pd

Oleh :
Kelompok I
1.      Agustina                                            (A1C213223)
2.      Alvi Sugiarto Syarip                         (A1C213037)
3.      Firda Ayu Winarti                             (A1C213026)
4.      Hermawan                                         (A1C213206)
5.      Monica Tancania Tisnawati Putri      (A1C213044)
6.      Maria Magdalena                              (A1C213237)
7.      Utari                                                  (A1C213062)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN IPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARMASIN
2015


BAB I


PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Strategi berasal dari bahasa Yunani yaitu stratus yang berarti militer, ego yang berarti memimpin serta stratego yang berarti merencanakan. Menurut Sanjaya, (2007 : 126). Dalam dunia pendidikan, strategi diartikan sebagai perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
Belajar menurut Winkel adalah suatu aktifitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan dan sikap.
Sedangkan, pengertian mengajar adalah suatu aktivitas mengorganisasi atau mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkan dengan anak, sehingga terjadi proses belajar. Atau dikatakan mengajar sebagai upaya menciptakan kondisi yang kondusif untuk berlangsungnya kegiatan belajar bagi para siswa (Sardiman, 2003:45)
Jadi, Strategi Belajar Mengajar adalah suatu mengorganisasikan lingkungan dalam hubungannya dengan anak didik dan bahan pengajaran yang menimbulkan terjadi proses belajar mengajar (Nana Sujana. 2008)
Strategi Belajar Mengajar merupakan salah satu mata kuliah dalam Perguruan Tinggi yang membimbing mahasiswa agar dapat memilih dan melaksanakan strategi belajar mengajar yang sesuai untuk mengajarkan masing- masing pokok bahasan yang tercantum dalam GBPP bidang studi biologi guna mencapai pembelajaran khusus yang telah dirumuskan.

1.2  Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan pendekatan konsep ?
2.      Apa saja contoh konsep IPA (Biologi) ?
3.      Apa yang dimaksud dengan pendekatan keterampilan proses ?
4.      Apa saja contoh keterampilan proses IPA ?
5.      Apa saja kelemahan dan keunggulan keterampilan proses dalam mengajarkan IPA ?

1.3  Tujuan Penulisan
1.      Mengetahui pengertian dari pendekatan konsep.
2.      Mengetahui contoh konsep IPA (Biologi).
3.      Mengetahui pengertian dari pendekatan keterampilan proses.
4.      Mengetahui contoh keterampilan proses IPA.
5.      Mengetahui kelemahan dan keunggulan keterampilan proses dalam mengajarkan IPA.

1.4  Metode Penulisan
Makalah ini Makalah ini dibuat dengan menggunakan metode deskriptif yang mengacu kepada berbagai sumber dan pustaka yang relevan. Makalah ini juga ditunjang oleh buku-buku yang disesuaikan dengan materi yang kami bahas.






BAB II
PENDEKATAN KONSEP DAN PENDEKATAN KETERAMPILAN PROSES IPA DALAM MENGAJARKAN IPA (BIOLOGI)

2.1         Pengertian Pendekatan Konsep
Dalam bahasa Inggris kata konsep berasal dari kata “concept” atau “construc” yang berarti simbol yang digunakan untuk memaknai sesuatu (Ihalaw, 2003 : 25). Secara umum konsep adalah suatu abstraksi yang menggambarkan ciri-ciri umum sekelompok objek, peristiwa atau fenomena lainnya. Pengertian konsep menurut beberapa ahli:
1.      Woodruff (Amin, 1987 ), mendefinisikan konsep sebagai berikut:
a)    suatu gagasan/ide yang relatif sempurna dan bermakna,
b)   suatu pengertian tentang suatu objek,
c)    produk subjektif yang berasal dari cara seseorang membuat pengertian terhadap objek-objek atau benda-benda melalui pengalamannya (setelah melakukan persepsi terhadap objek/benda).
2.      Menurut Soedjadi (2000:14) pengertian konsep adalah ide abstrak yang dapat digunakan untuk mengadakan klasifikasi atau penggolongan yang pada umumnya dinyatakan dengan suatu istilah atau rangkaian kata.    
3.      Menurut Bahri (2008:30) pengertian konsep adalah satuan arti yang mewakili sejumlah objek yang mempunyai ciri yang sama. Orang yang memiliki konsep mampu mengadakan abstraksi terhadap objek-objek yang dihadapi, sehingga objek-objek ditempatkan dalam golongan tertentu. Objek-objek dihadirkan dalam kesadaran orang dalam bentuk representasi mental tak berperaga. Konsep sendiri pun dapat dilambangkan dalam bentuk suatu kata (lambang bahasa).
4.      Menurut Singarimbun dan Effendi (2009) pengertian konsep adalah generalisasi dari sekelompok fenomena tertentu, sehingga dapat dipakai untuk menggambarkan barbagai fenomena yang sama. Konsep merupakan suatu kesatuan pengertian tentang suatu hal atau persoalan yang dirumuskan. Dalam merumuskan kita harus dapat menjelaskannya sesuai dengan maksud kita memakainya.
Konsep mempunyai definisi yang bervariasi di dalam literatur psikologi dan pendidikan. Beberapa definisi menekankan pada  sifat-sifat umum dari objek dan peristiwa untuk mengenalnya. Konsep dapat diwakili atau digambarkan dengan  hubungan yang hirarki (Sayibo, 1995). Konsep dapat didefinisikan  sebagai organisasi mental dan kategori-kategori pemikiran atau gagasan. Sebagai kategori, konsep memiliki kategori-kategori yang mencakup benda (objecs), peristiwa (events), orang (people), ide-ide (ideas), dan simbol-simbol (symbols)  (Van Cleaf, 1991  dalam Setyosari, 1998). Konsep pada hakikatnya adalah suatu ide  atau suatu pemahaman terhadap sesuatu atau generalisasi (Kolesnik, 1976). (http://yeyendra.blogspot.com/2011/11/bab-3-teori-dan-pengalaman-belajar.html)
Pembelajaran berbasis konsep dapat dilakukan  melalui analisis  konsep. Pemahaman konsep diperoleh melalui proses belajar. Sedangkan belajar merupakan proses kognitif yang melibatkan tiga proses yang berlangsung hampir bersamaan. Ketiga proses tersebut adalah : (1) memperoleh informasi baru, (2) transformasi informasi, dan (3) menguji relevansi dan ketetapan pengetahuan. (Dahar, 1991). (sumber: http://id.shvoong.com/)

Pendekatan Konsep
Konsep didefinisikan sebagai abstraksi dari ciri-ciri sesuatu yang mempermudah komunikasi antar manusia dan yang memungkinkan manusia berfikir. Tafsiran atau pengertian seseorang terhadap suatu konsep disebut konsepsi. Konsep menunjukkan suatu hubungan antar konsep-konsep yang lebih sederhana sebagai dasar perkiraan atau jawaban manusia terhadap pertanyaan-pertanyaan yang bersifat asasi tentang mengapa suatu gejala itu bisa terjadi. Konsep merupakan pikiran seseorang atau sekelompok orang yang dinyatakan dalam definisi sehingga menjadi produk pengetahuan yang meliputi prinsip-prinsip, hukum, dan teori. Konsep diperoleh dari fakta, peristiwa, pengalaman melalui generalisasi, dan berfikir abstrak. Konsep dapat mengalami perubahan disesuaikan dengan fakta atau pengetahuan baru, sedangkan kegunaan konsep adalah meramalkan dan menjelaskan.
Konsep adalah klasifikasi perangsang yang memiliki ciri-ciri tertentu yang sama. Konsep merupakan struktur mental yang diperoleh dari pengamatan dan pengalaman. Pendekatan konsep adalah pendekatan pembelajaran yang secara langsung menyajikan konsep tanpa memberikan kesempatan kepada siswa untuk menghayati bagaimana konsep itu diperoleh. (Syaipul sagala, 2007).
Manifestasi (perwujudan) proses kognitif melalui tahap-tahap sebagai berikut:
1.    Mengklasifikasikan pengalaman untuk menguasai konsep tertentu yang sama. 
2.    Menafsirkan pengalaman dengan jalan menghubungkan konsep yang telah diketahui untuk menyusun generalisasi.
3.    Mengumpulkan informasi untuk menafsirkan pengalaman, tahap ini disebut berpikir asosiatif.
4.    Menginterprestasikan atau menafsirkan pengalaman-pengalaman keadaan yang telah diketahui.

Pendekatan Konsep Dalam Kegiatan Belajar Mengajar 
Konsep dasar adalah konsep yang diperoleh melalui pengalaman yang benar. Konsep dasar berkembang melalui bimbingan pendidikan dan proses belajar mengajar. Contoh : Perkembangan konsep bahasa anak dimulai dari suara-suara yang tak ada artinya (berceloteh) menjadi suara, huruf, lambat laun menjadi suku kata.
Konsep dimulai dengan memperkenalkan benda konkret, berkembang menjadi simbol sehingga menjadi abstrak yang berupa ucapan atau tulisan yang mengandung konsep yang lebih kompleks. Konsep yang kompleks memerlukan permunculan berulang kali dalam satu pertemuan dalam kelas, didukung media atau sarana yang tepat. Contoh : Kalau pengajar menjelaskan konsep “mata”, maka pembelajar dapat memperlihatkan mata mereka secara konkret. Pengajar bertanya, “ Dimana matamu ?, Apa gunanya mata ?, Berapa matamu ?“. Dan pertanyaan-pertanyaan ini pembelajar dapat menghubungkan benda konkret dengan fungsinya dan kegiatannya. Semua ini memunculkan pengalaman baru.
Dalam proses internalisasi suatu konsep perlu diperhatikan dari beberapa hal, antara lain:
a.    Memperkenalkan benda-benda yang semula tak bernama menjadi bernama.
b.    Memperkenalkan unsur benda, sehingga memberi kemungkinan unsur lain.
Contoh:
a)    Bunga-berbau (harum/tak harum)
b)   Berwarna (bermacam-macam)
c)    Berdaun (kecil, besar)
d)   Berduri (lunak, keras).
c.    Menunjukkan ciri-ciri khusus pada benda yang diperlihatkan.
d.   Menunjukkan persetujuan dengan membandingkan contoh dan bukan contoh.
Contoh : Pakaian: kain-kain yang dibuat dan dipakai di badan.
Bukan contoh : tas, kalung, giwang; barang-barang ini dipakai tetapi bukan pakaian, melainkan pelengkap pakaian.
Oleh karena itu, kondisi yang dipertimbangkan dalam kegiatan belajar mengajar dengan pendekatan konsep adalah:
1.    Menanti kesiapan belajar, kematangan berpikir sesuai dengan unsur lingkungan.
2.    Mengetengahkan konsep dasar dengan persepsi yang benar yang mudah dimengerti.
3.    Memperkenalkan konsep yang spesifik dari pengalaman yang spesifik pula sampai konsep yang kompleks.
4.    Penjelasan perlahan-lahan dari yang konkret sampai yang abstrak.
Langkah-langkah mengajar dengan pendekatan konsep melalui 3 tahap yaitu:
1.      Tahap Enaktif
dimulai dari:
a)      Pengenalan benda konkret.
b)      Menghubungkan dengan pengalaman lama atau pengalaman baru.
c)      Pengamatan, penafsiran tentang benda baru.

2.      Tahap Simbolik
dengan memperkenalkan:
a)      Simbol, lambang, kode, seperti angka, huruf, kode, seperti (?,=,/).
b)      Membandingkan antara contoh dan non contoh untuk menangkap apakah siswa cukup mengerti akan ciri-cirinya.
c)      Membandingkan antara contoh dan non-contoh untuk menangkap apakah siswa  cukup mengerti akan ciri-cirinya.
d)     Memberi nama, istilah, serta definisi.

3.      Tahap Ikonik
tahap ini adalah tahap penguasaan konsep secara abstrak, seperti ;
Menyebut nama, istilah, definisi, apakah siswa sudah mampu mengatakannya.

Penjelasan Langkah-Langkah Pendekatan Konsep
1.         Tahap Enaktif
a.       Pengajar memperlihatkan barang-barang yang sering dipakai orang sehari-hari untuk menutup badan dan perlengkapannya. Pembelajar diminta mengamati dan menghubungkan dengan apa yang pernah dialaminya atau barangkali ada kreasi baru.
b.      Pengajar bertanya agar mendapat respons tentang barang-barang tersebut. Apakah kamu pernah mengenakan barang seperti ini jawabnya ya atau tidak. Apakah kamu pernah mengenakan barang seperti ini, jawabnya ya atau tidak. Apakah barang-barang ini sambil diperagakan, dipakai di badan, disebagian badan atau di seluruh badan serta dikaki, di tangan atau di leher, jawabnya “ ya atau tidak “. Kegiatan ini diulang-ulang sehingga jelas dan pembelajar ada yang merespons betul dan ada juga yang salah.

2.         Tahap Simbolik
a.    Pengajar memperlihatkan gambar tentang barang-barang yang ditunjukkan pada a dan b. Pembelajar menunjuk dan menyebut ciri-ciri khusus tiap-tiap benda tersebut, misalnya:
1.      Terbuat dari: kain, kulit, plastik.
2.      Bermacam-macam warna: putih, cokelat.
3.      Berbeda-beda model: berlengan, berkerah.
b.    Pengajar bersama pembelajar memberi sebuah nama atau istilah. Gambar atau barang yang termasuk baju dan gambar atau barang yang bukan baju tetapi sebagai pelengkap. Pembelajar secara lisan dapat menyebut dengan nama dan definisinya.

3.         Tahap Ikonik
a.    Pengajar menunjuk tulisan “BAJU”,pembelajar mengucapkan “BAJU”.
b.    Bila pengajar menyuruh seorang pembelajar, “Lipatlah baju ini”, maka pembelajar pun akan mengambil salah satu baju dan dilipat. Ini pertanda bahwa pembelajar telah memiliki konsep.
Berdasarkan kesimpulan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa konsep merupakan suatu buah pemikiran seseorang, tafsiran atau pengertian seseorang yang dinyatakan dalam definisi sehingga melahirkan produk pengetahuan meliputi prinsip, hukum, dan teori. Konsep itu sendiri diperoleh dari fakta, peristiwa, pengalaman, melalui generalisasi dan berfikir abstrak, fungsi konsep itu sendiri adalah menjelaskan, meramalkan dan menafsirkan. (Purwanto, 2010)
2.2         Contoh Konsep IPA (Biologi)
Ada banyak kesalahan konsep yang selama ini berkembang dalam pengelolaan belajar Biologi (IPA) di dalam kelas, Kegiatan belajar Biologi berubah menjadi kegiatan mengajar Biologi. Dengan kegiatan mengajar, maka pusat kegiatan adalah guru. Sepanjang jam pelajaran harus memberikan ceramah dan siswa duduk memperhatikan. Dalam kegiatan belajar Biologi, siswa yang menjadi pusat kegiatan atau subyek belajar.
Biologi sebagai Ilmu Pengetahuan Alam merupakan ilmu yang lahir dan berkembang berdasarkan observasi dan eksperimen. Dengan demikian, belajar biologi tidak cukup hanya dengan menghafalkan fakta dan konsep yang sudah jadi, tetapi juga dituntut untuk menemukan fakta-fakta dan konsep-konsep tersebut melalui observasi dan eksperimen. Dengan adanya eksperimen tersebut, maka keterampilan Sains yang dimiliki siswa tersebut akan berpotensi untuk menguasai pengetahuan yang lebih tinggi. Karena dengan adanya keterampilan Sains yang dimiliki, maka siswa secara mental sudah siap menghadapi permasalahan yang terjadi dalam hidupnya.
Dengan demikian proses belajar mengajar Biologi bukan hanya sekedar transfer informasi/ilmu dari guru kepada siswa atau hanya interaksi antara guru dengan siswa, tetapi pola interaksi terjadi antara siswa dengan objek (materi) sedangkan guru hanya bertindak sebagai penengah atau pengendali.
Berikut ini adalah skema kedudukan guru terhadap siswa dan materi Biologi dalam proses belajar mengajar yang dikemukakan oleh Djohar (1985 : 8)

      
           
Konsep didefinisikan sebagai abstraksi dari ciri-ciri sesuatu yang mempermudah komunikasi antara manusia dan yang memungkinkan manusia berfikir. Tafsiran atau pengertian seseorang terhadap suatu konsep disebut konsepsi.
Setiap konsep yang telah diperoleh mempunyai perbedaan isi dan luasnya. Seseorang yang memiliki konsep melalui proses yang benar pengalaman maka pengertiannya akan kuat. Kemampuan membedakan sangat dibutuhkan dalam penguasaan konsep. Dapat membedakan konsep berarti dapat melihat ciri-ciri setiap konsep.
Menurut Prof.  Dr. Muslimin Ibrahim, M.Pd. Anak-anak membentuk pemahaman terhadap fenomena alam sebelum mereka mempelajarinya secara formal di sekolah. Pemahaman yang mereka miliki disebut konsepsi awal (prakonsepsi). Sebagian dari pemahaman tersebut sesuai dengan pemahaman yang dimiliki dan diyakini kebenarannya oleh para ilmuwan (sesuai dengan konsep ilmiah). Akan tetapi banyak juga di antara pemahaman yang mereka miliki sama sekali berbeda dengan konsep ilmiah yang diakui kebenarannya.
Prakonsepsi pada siswa akan hilang ketika mereka diajarkan konsep yang sebenarnya. Sebagai contoh: seorang siswa memiliki prakonsepsi dengan pemahaman: Mata kita dapat melihat sebuah benda, karena benda itu dapat memantulkan cahaya dari mata kita.  Prakonsepsi lain yang dimiliki oleh siswa misalnya: Lampu yang dekat dengan baterai akan menyala lebih terang dari pada lampu yang letaknya lebih jauh dari baterai, karena lampu yang dekat berkesempatan memakan listrik lebih banyak dari pada lampu yang lebih jauh.
Suatu prakonsepsi biasanya lebih mudah diubah. Prakonsepsi akan berubah manakalah siswa yang bersangkutan diajarkan konsep yang sebenarnya. Bila suatu prakonsepsi tidak mudah berubah, dan orang yang memiliki prakonsepsi itu selalu kembali kepada prakonsepsinya sendiri meskipun telah diperkenalkan dengan konsep yang benar, hal itu dinamakan miskonsepsi (kesalahan konsep).
Beberapa contoh kesalahan konsep dan pembenarannya :
ü  Konsep 1 :
“Ciri makhluk hidup adalah makan”
Penjelasan konsep ini SALAH, karena ternyata realita menunjukkan tidak semua makhluk hidup makan.   Tumbuhan misalnya adalah contoh makhluk hidup yang tidak makan. Kita tidak pernah melihat tumbuhan melakukan proses makan, yaitu mengambil makanan dari lingkungannya. Ingat ciri makanan adalah berupa zat organik, mengandung energi, dan bermanfaat bagi tubuh. Tumbuhan memang menyerap zat dari dalam tanah yaitu berupa air dan garam-garam mineral. Air dan mineral bukan makanan, karena tidak memenuhi kriteria ciri makanan tadi.
Penjelasan yang benar adalah: Ciri makhluk hidup adalah perlu makanan. Semua makhluk hidup memerlukan makanan termasuk tumbuhan, hanya saja cara pemenuhannya berbeda. Hewan dilakukan melalui proses makan, tetapi tumbuhan dilakukan dengan cara membuat makanan sendiri di dalam tubuhnya.( Ibrahim, Muslimin. 2011 )

ü  Konsep 2 :
“Rantai makanan adalah peristiwa makan memakan yang terjadi berurutan”
Rantai makanan bukanlah peristiwa makan memakan, karena konsep makan memakan adalah saling makan, padahal yang terjadi adalah hanya satu pihak yang dimakan sedang pihak yang memakan tidak, tapi ada potensi untuk di makan oleh organisme lainnya. Sebagai contoh: tikus dimakan ular, sementara tikus tidak memakan ular. Tapi ular kemungkinan juga dapat dimakan oleh organisme lain seperti burung buas.
Konsep berurutan sebenarnya juga tidak statis tetapi dinamis, artinya urutan peristiwa memakan dapat berubah terutama bila rantai makanan itu melibatkan organisme yang omnivor.
Contoh: Nyamuk---katak---Manusia; urutan ini dapat berubah: katak---Manusia---Nyamuk : atau urutan yang lain: Manusia ---nyamuk---katak.
Saran Perbaikan : Dengan demikian saran perbaikan definisi: rantai makanan adalah peristiwa makan dan dimakan menurut urutan tertentu.


ü  Konsep 3 :
“Hewan yang hidup di air bernapas dengan insang”
Yang benar  tidak semua hewan yang hidup di air bernapas dengan insang, contohnya Lumba-lumba, ikan paus, semuanya hidup di air tapi tidak bernapas dengan insang. Pernapas yang memerlukan insang jika hewan itu mengambil oksigen dari air. Hewan yang hidup di air bisa saja tidak mengambil oksigen dari air sehingga tidak perlu insang. Lumba-lumba dan ikan paus serta Mammalia air lainnya sebagai misal, mengambil oksigen dari udara.(Ibrahim, Muslimin. 2011)
IPA dibangun dari konsep-konsep dan penjelasan yang benar di dalam biologi harus dibangun pula dari konsep yang benar. (Ibrahim, Muslimin. 2011).

2.3         Pengertian Pendekatan Keterampilan Proses
Dari beberapa pendekatan yang ada, Pendekatan Ketrampilan Proses (PKP) merupakan pendekatan yang sangat ditekankan dalam pelaksanaan baik untuk kurikulum 1984 , kurikulum 1994 maupun KBK 2004 untuk pembelajaran Sain (IPA) (http://file.upi.edu).
Pendekatan keterampilan proses adalah suatu pendekatan dalam pembelajaran yang mengikut sertakan siswa secara aktif guna mengembangkan kemampuan yang mereka miliki sehingga mereka memperoleh suatu yang baru berdasarkan hasil pengamatan yang interprestasi  dari objek atau fenomena yang mereka hadapi (Widada. 2008).
Pendekatan keterampilan proses pada hakikatnya adalah suatu pengelolaan kegiatan belajar-mengajar yang berfokus pada pelibatan siswa secara aktif dan kreatif dalam proses pemerolehan hasil belajar (Conny, 1992). Pendekatan keterampilan proses ini dipandang sebagai pendekatan yang oleh banyak pakar paling sesuai dengan pelaksaksanaan pembelajaran di sekolah dalam rangka menghadapi pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin cepat dewasa ini. Dalam pembelajaran matematika pun, pendekatan keterampilan proses ini sangat cocok digunakan. Struktur matematika yang berpola deduktif kadang-kadang memerlukan proses kreatif yang induktif. Untuk sampai pada suatu kesimpulan, kadang-kadang dapat digunakan pengamatan, pengukuran, intuisi, imajinasi, penerkaan, observasi, induksi bahkan mungkin dengan mencoba-coba. Pemikiran yang demikian bukanlah kontradiksi, karena banyak objek matematika yang dikembangkan secara intuitif atau induktif (Nyimas Aisyah dalam staff.uny.ac.id)
Keterampilan proses sains adalah pendekatan yang didasarkan pada anggapan bahwa sains itu terbentuk dan berkembang melalui suatu proses ilmiah. Dalam  pembelajaran sains, proses ilmiah tersebut harus dikembangkan pada siswa sebagai pengalaman yang bermakna. Bagaimanapun pemahaman konsep sains tidak hanya mengutamakan hasil (produk) saja, tetapi proses untuk mendapatkan konsep tersebut juga sangat penting dalam membangun pengetahuan siswa. Keterampilan ilmiah dan sikap ilmiah memiliki peran yang penting dalam menemukan konsep sains. Siswa dapat  membangun gagasan baru sewaktu mereka berinteraksi dengan suatu gejala. Pembentukan gagasan dan pengetahuan siswa ini tidak hanya bergantung pada karakteristik objek, tetapi juga bergantung pada bagaimana siswa memahami objek atau memproses informasi sehingga diperoleh dan dibangun suatu gagasan baru.

Prinsip Pembelajaran Keterampilan Proses Sains
Menurut Conny, 1992 ada beberapa prinsip di dalam pemebelajaran keterampilan proses sains :
1.    Kemampuan mengamati
Mengamati merupakan salah satu keterampilan yang sangat penting untuk memperoleh pengetahuan, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Contoh: siswa mengamati benda-benda yang berbentuk lingkaran.
2.    Kemampuan menghitung
Kemampuan menghitung dalam pengertian yang luas, merupakan salah satu kemampuan yang penting dalam kehidupan sehari-hari. Dapat dikatakan bahwa dalam semua aktivitas kehidupan semua manusia memerlukan kemampuan ini. Contoh: siswa menghitung garis tengah yang diperlukan untuk keliling suatu lingkaran.
3.    Kemampuan mengukur
Dalam pengertian yang luas, kemampuan mengukur sangat diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Dasar dari kegiatan ini adalah perbandingan. Contoh: siswa mengukur panjang garis tengah lingkaran.
4.    Kemampuan mengklasifikasikan
Kemampuan mengklasifikasi merupakan kemampuan mengelompokkan atau menggolongkan sesuatu yang berupa benda, fakta, informasi, dan gagasan.Contoh: siswa mengelompokkan benda-benda yang berbentuk lingkaran dengan yang bukan.
5.    Kemampuan menemukan hubungan
Kemampuan ini merupakan kemampuan penting yang perlu dikuasai oleh siswa. Contoh: siswa menentukan waktu yang dibutuhkan oleh siswa lain yang dapat menempuh lintasan lapangan berbentuk lingkaran dengan garis tengah dan waktu tertentu.
6.    Kemampuan membuat prediksi (ramalan)
Kemampuan membuat ramalan atau perkiraan yang didasari penalaran, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Contoh: Siswa meramalkan mana yang lebih panjang jarak tempuhnya jika dua buah benda yang berlainan jari-jari digelindingkan. Siswa kemudian membuat hipotesis tentang rumus keliling lingkaran.
7.    Kemampuan melaksanakan penelitian
Penelitian merupakan kegiatan para ilmuwan di dalam kegiatan ilmiah. Namun, dalam kehidupan sehari-hari penelitian (percobaan) merupakan kegiatan penyelidikan untuk menguji gagasan-gagasan melalui kegiatan eksperimen praktis. Contoh: siswa melakukan percobaan untuk menemukan rumus keliling lingkaran.
8.    Kemampuan mengumpulkan dan menganalisis dat
Kemampuan ini merupakan bagian dari kemampuan melaksanakan penelitian. Contoh: siswa mengumpulkan data yang diperoleh dari percobaan, menganalisis data tersebut, dan membuat kesimpulan berupa rumus keliling lingkaran
9.    Kemampuan menginterpretasikan data
Dalam kemampuan ini, siswa perlu menginterpretasikan hasil yang dperoleh dan disajikan dalam bentuk tabel, diagram, grafik, atau histogram. Contoh: siswa menginterpretasikan hubungan antara garis tengah dan keliling lingkaran dengan menggunakan grafik yang diperoleh dari percobaan.
10.     Kemampuan mengkomunikasikan hasil
Kemampuan ini merupakan salah satu kemampuan yang juga harus dikuasai siswa. Dalam kemampuan ini, siswa perlu dilatih untuk mengkomunikasikan hasil penemuannya kepada orang lain dalam bentuk laporan penelitian, paper, atau karangan. Contoh: siswa membuat laporan tentang hasil percobaan menentukan rumus keliling lingkaran

2.4         Contoh Keterampilan Proses IPA
1.         Contoh keterampilan proses dalam IPA misalnya dapat kita temui pada proses pengamatan perkecambahan yang dipengaruhi oleh jumlah intensitas cahaya. Pada pengamatan tersebut siswa diminta untuk mencari hubungan antara jumlah intensitas cahaya (tempat) terhadap laju perkecambahan. Kecambah yang berada di tempat terang atau lebih banyak terkena cahaya maka pertumbuhan kecambah tersebut lebih lambat dibandingkan kecambah yang berada ditempat yang gelap pertumbuhannya lebih cepat (farischarming.wodrdpress.com)

2.         Ciri Makhluk Hidup
Pada umumnya ciri makhluk hidup ada 9 yaitu  bergerak, peka terhadap rangsang(iritabilitas), memerlukan makan (nutrisi), bernafas (respirasi), tumbuh dan berkembang, berkembangbiak (reproduksi), adaptasi, regulasi, dan ekskresi. Berikut ini merupakan penjelasan ciri-ciri makhluk hidup secara lengkap : 

1.              Bergerak
Bergerak adalah merupakan perubahan posisi, baik seluruh tubuh atau sebagian.Hal ini disebabkan oleh adanya tanggapan terhadap rangsang. Gerak yang dilakukan pada tumbuhan antara lain : gerak menutupnya daun putri malu jika disentuh, gerak ujung batang dari bawah ke atas ke arah sinar matahari, dan gerak membukanya biji lamtoro disebabkan perubahan kadar air. Pada hewan juga terdapat gerak, antara lain : gerak aktif pada hewan vertebrata yaitu alat gerak berupa otot, gerak pasif pada hewan vertebrata yaitu alat gerak berupa tulang, dan gerak pada manusia yaitu berjalan, berlari dan lain-lain.

2.              Peka Terhadap Rangsang (iritabilitas)
Hal ini dapat ditunjukkan sebagai berikut: 
·         Pada tumbuhan, daun putri malu bila diberi rangsang sentuhan akan menanggapi rangsang dengan menutup daunnya.
·         Pada hewan, ayam ketika fajar menyingsing akan berkokok.
·         Manusia jika diberi bau yang merangsang akan menanggapi rangsang, misalnya bersin.

3.              Memerlukan Makan (nutrisi)
Setiap makhluk hidup memerlukan makanan.Hal ini bertujuan agar dapat mempertahankan hidup, menghasilkan energi, dan pertumbuhan. Setiap makhluk hidup mempunyai cara yang berbeda-beda dalam memperoleh makanan. Tumbuhan dapat membuat makanan sendiri melalui proses fotosintesis. Hewan dan manusia tidak dapat membuat makanan sendiri, tetapi tergantung pada makhluk hidup lainnya.

4.       Bernafas (respirasi)
            Bernafas yaitu pengambilan oksigen untuk oksidasi makanan, sehingga memperoleh energi dan mengeluarkan karbondioksida sebagai zat sisa.Hewan vertebrata di darat bernafas dengan paru-paru, ikan bernafas dengan insang, cacing bernafas dengan kulit.Tumbuhan, pada daun bernafas melalui stomata, pada batang melalui lentisel dan di akar melalui bulu-bulu akar.Manusia bernafas dengan paru-paru.

5.       Tumbuh dan Berkembang
Tumbuh adalah bertambahnya volume atau ukuran makhluk hidup yang irreversible. Berkembang adalah proses menuju kedewasaan yang dipengaruhi oleh hormon, nutrisi dan lingkungan.

6 .      Berkembangbiak (reproduksi)
Berkembangbiak adalah memperbanyak diri untuk mempertahankan kelestarian jenisnya. Cara berkembangbiak sebagai berikut :
·       Secara kawin/generatif, yaitu perkembangbiakan yang melibatkan sel telur dan sel sperma.
·       Secara tak kawin/vegetatif, yaitu perkembangbiakan yang tidak melibatkan sel telur           dan sel sperma, melainkan melibatkan sel tubuh.

7.       Adaptasi
Adaptasi adalah kemampuan makhluk hidup untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungan dan untuk mempertahankan diri. Terdapat tiga macam adaptasi, yaitu:
·       Adaptasi morfologi, yaitu penyesuaian diri terhadap alat-alat tubuhnya. Contoh:    burung elang mempunyai kuku yang tajam untuk menerkam mangsa. Bunga teratai          mempunyai daun yang lebar untuk memperluas bidang penguapan.
·       Adaptasi fisiologi, yaitu penyesuian diri terhadap lingkungan dengan fungsi alat-alat         tubuh. Contoh : Manusia menambah jumlah sel darah merah bila berada di pegunungan. Kotoran unta kering , tetapi urinenya kental
·       Adaptasi tingkah laku, yaitu penyesuaian diri terhadap lingkungan dengan tingkah lakunya. Contoh: Bunglon mengubah warna tubuhnya, ikan paus muncul ke permukan secara periodik.

8.       Ekskresi
Ekskresi adalah proses pengeluaran sisa-sisa metabolisme tubuh. Dalam proses oksidasi makanan selain menghasilkan energi, tubuh organisme juga menghasilkan zat sisa yang harus dikeluarkan dari tubuh. Apabila zat sisa tersebut tidak dikeluarkan akan membahayakan tubuh. Contoh: Manusia mengeluarkan karbondioksida melalui paru–paru, ikan mengeluarkan karbondioksida melalui insang. (artikelbiologi.com)

2.5         Kelemahan dan Keunggulan Keterampilan Proses dalam Mengajarkan IPA
Kelemahan Pendekatan Keterampilan Proses sebagai berikut:
1.         Membutuhkan waktu yang relatif lama untuk melakukannya
2.         Jumlah siswa dalam kelas harus relative kecil, karena setiap siswa memerlukan perhatian dari guru.
3.         Memerlukan perencanaan dengan teliti.
4.         Tidak menjamin setiap siswa akan dapat mencapai tujuan sesuai dengan tujuan pembelajaran.
5.         Sulit membuat siswa turut aktif secara merata selama proses berlangsungnya pembelajaran.
(Yinda, 2010)
Kelebihan pendekatan keterampilan proses yaitu:
1.      Merangsang ingin tahu dan mengembangkan sikap ilmiah siswa.
2.       Siswa akan aktif dalam pembelajaran dan mengalami sendiri proses mendapatkan konsep.
3.      Pemahaman siswa lebih mantap.
4.      Siswa terlibat langsung dengan objek nyata sehingga dapat mempermudah pemahaman siswa terhadap materi pelajaran,
5.      Siswa menemukan sendiri konsep-konsep yang dipelajari
6.      Melatih siswa untuk berpikir lebih kritis.
7.      Melatih siswa untuk bertanya dan terlibat lebih aktif dalam pembelajaran.
8.      Mendorong siswa untuk menemukan konsep-konsep baru,
9.      Memberi kesempatan kepada siswa untuk belajar menggunakan metode ilmiah.
(Yinda.2010)









BAB III
PENUTUP
3.1         Kesimpulan
1.    Konsep adalah suatu abstraksi yang menggambarkan ciri-ciri umum sekelompok objek, peristiwa atau fenomena lainnya. Sedangkan, Pendekatan konsep adalah pendekatan pembelajaran yang secara langsung menyajikan konsep tanpa memberikan kesempatan kepada siswa untuk menghayati bagaimana konsep itu diperoleh.
2.    Contoh konsep IPA misalnya dapat kita ketahui pada penjelasan mengenai ciri-ciri makhluk hidup dan rantai makanan.
3.     Pendekatan keterampilan proses adalah suatu pendekatan dalam pembelajaran yang mengikut sertakan siswa secara aktif guna mengembangkan kemampuan yang mereka miliki sehingga mereka memperoleh suatu yang baru berdasarkan hasil pengamatan yang interprestasi  dari objek atau fenomena yang mereka hadapi.
4.    Salah satu contoh keterampilan proses dalam IPA misalnya dapat kita temui pada proses pengamatan perkecambahan yang dipengaruhi oleh jumlah intensitas cahaya.
5.    Kelemahan keterampilan proses dalam mengajar IPA adalah membutuhkan waktu yang relatif lama untuk melakukannya dan sulit membuat siswa turut aktif secara merata selama proses berlangsungnya pembelajaran.
6.    Keunggulan keterampilan proses dalam mengajar IPA adalah dapat merangsang ingin tahu dan mengembangkan sikap ilmiah siswa serta Pemahaman siswa lebih mantap.

3.2         Saran
Sebagai calon pendidik, hendaknya mampu mengaplikasikan berbagai contoh dalam pendekatan konsep dan pendekatan keterampilan proses dalam kegiatan belajar mengajar agar tidak terjadi misskonsepsi antara pendidik dan peserta didik dikemudian hari.
DAFTAR PUSTAKA

http://eprints.undip.ac.id/metodolofi Diakses pada tanggal 13 Februari 2014




http://id.shvoong.com/ Diakses pada tanggal 13 Februari 2014






http://www.repository.usu.ac.id Diakses pada tanggal 13 Februari 2014


 Widada. 2008. Penerapan Keterampilan Pendekatan Proses Sebagai Upaya Motivasi Belajar Dan Pemahaman Siswa Pada Sub Pkok Bahasan Transport Pada Membran Sel Untuk Siswa Kelas XI IPA Madrasah Aliyah Negri 1 Kalibawang.  Yogyakarta : Perpustakaan Digital UIN Sunan Kalijaga)